Nusron Wahid Dari Gerakan Mahasiswa ke Gerakan Ekonomi Pesantren
Jumat, 5 Desember 2008
Di kalangan aktivis mahasiswa nama Nusron Wahid sudah tidak asing lagi. Nusron, panggilan akrabnya, memang menjadi salah seorang icon aktivis mahasiswa yang turut menggerakan reformasi. Dahulu dia rajin membangun jaringan di antara organisasi mahasiswa. Maklum saja, posisi Nusron ketika itu sangat strategis yakni Ketua Umum PB PMII. Di bawah kepemimpinannya, PMII begitu dinamis dan disegani diantara organisasi mahasiswa lain.
Misalnya, Nusron mampu berdebat dengan sejumlah aktivis mahasiswa lain, seperti Taufik Riyadi (BEM UI) dan Muhammad Badaruddin (KAMMI) dalam diskusi bertajuk Bila Mega Jadi Presiden” tahun 2001 lalu. Dalam hal debat dan orasi Nusron memang dikenal handal.
Nusron sempat membuat geger dikalangan aktifis mahasiswa ketika memilih menjadi calon legislatif (caleg) dari Partai Golkar, partai yang selama reformasi menjadi bulan-bulanan pro demokrasi. Tudingan miring hingga cap sebagai penghianat mampir ke dirinya. Namun Nusron dapat menapik semua tudingan itu dengan tenang.
“Sekarang situasi sudah berubah, Partai Golkar tidak lagi menjadi mesin politik Orde Baru seperti dahulu,” ujar Nusron ketika itu menjawab tudingan miring.
Menurut Nusron mengatakan, Golkar sekarang berbeda dari yang dahulu. Artinya, dahulu dijadikan mesin dan kendaraan politik Orde Baru. Dahulu harus dikritik karena digunakan kendaraan politik Orde Baru. Nusron juga membantah, masuknya dia sebagai caleg Golkar karena pemikiran pragmatis. Partai tersebut jelas tidak seperti dahulu, sehingga dia harus merogoh koceknya untuk operasional pencalonan itu. “Untuk dana ke sana ke mari harus biaya pribadi,” ujarnya.
Jadi, tuduhan memperoleh keuntungan materi adalah tidak enar. Pasalnya, untuk menjadi caleg harus melakukan pembinaan di daerah pemilihnya, dan itu membutuhkan dana. Jadi tidak benar, kalau hanya mengejar materi.
Kini Nusron telah menjelma menjadi salah satu politisi muda andalan Partai Golkar. Di kalangan partai berlambang pohon beringin itu, Nusron yang juga Anggota Komisi VI DPR RI ini, dikenal sebagai politisi santri. Maklum saja, latar belakangnya memang dari keluagra Nahdliyin yang dekat dunia pesantren. Nusron juga hapal kitab-kitab “gundul” yang biasa di pelajari di pesantren, seperti alfiah.
Mesi dibesarkan dalam keluarga santri, hasrat berpolitik pria kelahiran Kudus 12 Oktober 1973 ini selalu bergejolak. Tak mengherankan bila jiwa politisinya pun makin kian terasah setelah terjun langsung menjadi aktivis pergerakan di PMII dan aktivis mahasiswa saat duduk di bangku kuliah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namun geraknya di dunia politik hampir tak pernah lepas dari warna agama.
Mantan wartawan Bisnis Indonesia yang juga anggota Departemen Keagamaan DPP Partai Golkar itu yakin agama bisa menjadi pedoman hidup, tak terkecuali bagi seorang wakil rakyat seperti dirinya. Suami dari Dily Rosi Timadar ini juga yakin, bila wakil rakyat berjuang semata-mata untuk rakyat, maka citra lembaga DPR bisa menjadi lebih baik. “Agama dan politik bisa berjalan beriringan demi kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya, yakin.
Di Partai Golkar Nusron Wahid menjadi salah satu politisi muda yang dapat diandalkan. Buktinya, Nusron sudah masuk dalam jajaran DPP Partai Golkar bidang keagamaan. Dalam partai pohon beringin itu, Nusron juga pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Golkar Korbid Keagamaan. Bagi dia, peran dan fungsi agama harus dioptimalkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, seperti pengentasan kemiskinan.
“Partai Golkar saat ini sedang menggodok konsep untuk mengoptimalkan upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan agama,” kata Wakil Koordinator Balitbang PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) itu. (saefullah/dutamasyarakat)
Misalnya, Nusron mampu berdebat dengan sejumlah aktivis mahasiswa lain, seperti Taufik Riyadi (BEM UI) dan Muhammad Badaruddin (KAMMI) dalam diskusi bertajuk Bila Mega Jadi Presiden” tahun 2001 lalu. Dalam hal debat dan orasi Nusron memang dikenal handal.
Nusron sempat membuat geger dikalangan aktifis mahasiswa ketika memilih menjadi calon legislatif (caleg) dari Partai Golkar, partai yang selama reformasi menjadi bulan-bulanan pro demokrasi. Tudingan miring hingga cap sebagai penghianat mampir ke dirinya. Namun Nusron dapat menapik semua tudingan itu dengan tenang.
“Sekarang situasi sudah berubah, Partai Golkar tidak lagi menjadi mesin politik Orde Baru seperti dahulu,” ujar Nusron ketika itu menjawab tudingan miring.
Menurut Nusron mengatakan, Golkar sekarang berbeda dari yang dahulu. Artinya, dahulu dijadikan mesin dan kendaraan politik Orde Baru. Dahulu harus dikritik karena digunakan kendaraan politik Orde Baru. Nusron juga membantah, masuknya dia sebagai caleg Golkar karena pemikiran pragmatis. Partai tersebut jelas tidak seperti dahulu, sehingga dia harus merogoh koceknya untuk operasional pencalonan itu. “Untuk dana ke sana ke mari harus biaya pribadi,” ujarnya.
Jadi, tuduhan memperoleh keuntungan materi adalah tidak enar. Pasalnya, untuk menjadi caleg harus melakukan pembinaan di daerah pemilihnya, dan itu membutuhkan dana. Jadi tidak benar, kalau hanya mengejar materi.
Kini Nusron telah menjelma menjadi salah satu politisi muda andalan Partai Golkar. Di kalangan partai berlambang pohon beringin itu, Nusron yang juga Anggota Komisi VI DPR RI ini, dikenal sebagai politisi santri. Maklum saja, latar belakangnya memang dari keluagra Nahdliyin yang dekat dunia pesantren. Nusron juga hapal kitab-kitab “gundul” yang biasa di pelajari di pesantren, seperti alfiah.
Mesi dibesarkan dalam keluarga santri, hasrat berpolitik pria kelahiran Kudus 12 Oktober 1973 ini selalu bergejolak. Tak mengherankan bila jiwa politisinya pun makin kian terasah setelah terjun langsung menjadi aktivis pergerakan di PMII dan aktivis mahasiswa saat duduk di bangku kuliah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namun geraknya di dunia politik hampir tak pernah lepas dari warna agama.
Mantan wartawan Bisnis Indonesia yang juga anggota Departemen Keagamaan DPP Partai Golkar itu yakin agama bisa menjadi pedoman hidup, tak terkecuali bagi seorang wakil rakyat seperti dirinya. Suami dari Dily Rosi Timadar ini juga yakin, bila wakil rakyat berjuang semata-mata untuk rakyat, maka citra lembaga DPR bisa menjadi lebih baik. “Agama dan politik bisa berjalan beriringan demi kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya, yakin.
Di Partai Golkar Nusron Wahid menjadi salah satu politisi muda yang dapat diandalkan. Buktinya, Nusron sudah masuk dalam jajaran DPP Partai Golkar bidang keagamaan. Dalam partai pohon beringin itu, Nusron juga pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Golkar Korbid Keagamaan. Bagi dia, peran dan fungsi agama harus dioptimalkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, seperti pengentasan kemiskinan.
“Partai Golkar saat ini sedang menggodok konsep untuk mengoptimalkan upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan agama,” kata Wakil Koordinator Balitbang PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) itu. (saefullah/dutamasyarakat)
Kliping Media Sebelumnya
