Nusron Wahid : Politisi Santri
Banyak yang menjuluki anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar ini sebagai “politisi santri”. Mungkin, julukan itu memang tepat dialamatkan kepada mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2002-2003 ini.
Walau dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga santri, hasrat berpolitik pria kelahiran Kudus 12 Oktober 1973 ini selalu bergejolak. Tak mengherankan bila jiwa politisinya pun makin kian terasah setelah terjun langsung menjadi aktivis pergerakan di PMII dan aktivis mahasiswa saat duduk di bangku kuliah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namun geraknya di dunia politik hampir tak pernah lepas dari warna agama.
Karena itu wajar saja bila Nusron kini dipercaya sebagai Ketua Panitia Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Golkar Korbid Keagamaan. Bagi dia, peran dan fungsi agama harus dioptimalkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, seperti pengentasan kemiskinan.
“Partai Golkar saat ini sedang menggodok konsep untuk mengoptimalkan upaya pengentasan kemiskinan melalui pendekatan agama,” kata Wakil Koordinator Balitbang PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) itu.
Mantan wartawan Bisnis Indonesia yang juga anggota Departemen Keagamaan DPP Partai Golkar itu yakin agama bisa menjadi pedoman hidup, tak terkecuali bagi seorang wakil rakyat seperti dirinya.
Suami dari Dily Rosi Timadar ini juga yakin, bila wakil rakyat berjuang semata-mata untuk rakyat, maka citra lembaga DPR bisa menjadi lebih baik. “Agama dan politik bisa berjalan beriringan demi kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya, yakin. (M Kardeni)